Malam Berdarah di Rumah Kosong Jalan Mawar yang Mencekam

Malam Berdarah di Rumah Kosong Jalan Mawar

Rasa Penasaran yang Fatal

Jalan Mawar dikenal sebagai kawasan perumahan tua di pinggiran kota. Sebagian besar rumah di sana sudah kosong dan terbengkalai. Namun, ada satu rumah yang selalu menarik perhatian karena sering disebut “angker” oleh warga sekitar. Cat dindingnya terkelupas, jendela-jendelanya pecah, dan pintunya berderit setiap kali tertiup angin.

Malam itu, saya dan tiga teman nekat mendatangi rumah kosong tersebut. Awalnya hanya rasa penasaran, ditambah dorongan iseng karena banyak cerita mistis yang beredar. Warga pernah bilang, dulu ada kasus pembunuhan brutal di dalam rumah itu, tetapi kami menganggapnya hanya rumor.

Saat Pertama Kali Masuk

Begitu masuk, hawa dingin langsung menyergap. Udara di dalam rumah terasa lebih berat dibandingkan di luar. Lantai kayu berderit setiap kali kami melangkah. Lampu senter yang kami bawa menyorot dinding yang dipenuhi coretan dan bercak merah kecokelatan—entah itu cat atau sesuatu yang lain.

Di ruang tamu, bau anyir tercium samar. Semakin kami melangkah masuk, semakin kuat aroma itu menusuk hidung. Salah satu teman saya, Raka, mulai gelisah dan berbisik, “Bau darah ya?” Saya menahan napas, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya imajinasi.

Suara yang Tak Terjelaskan

Saat tiba di ruang belakang, tiba-tiba terdengar suara kursi bergeser dari lantai dua. Padahal kami semua berdiri di bawah. Senter kami serentak diarahkan ke arah tangga. Kosong. Hanya debu yang beterbangan.

“Pasti tikus,” kata Dimas dengan suara memaksa tenang. Tapi saya tahu, dari raut wajahnya ia juga takut.

Kami mencoba melanjutkan langkah, namun setiap beberapa detik terdengar langkah kaki mengikuti. Awalnya pelan, kemudian semakin jelas, seperti ada seseorang berjalan di atas kepala kami.

Penampakan Pertama

Ketika kami hendak naik ke lantai dua, tiba-tiba sosok perempuan berambut panjang melintas cepat di depan tangga. Rambutnya menutupi wajah, bajunya compang-camping, dan dari lengannya menetes cairan gelap ke lantai.

Senter yang kami arahkan bergetar karena tangan kami tak kuasa menahan rasa takut. Anehnya, ketika cahaya menyorot ke tangga, sosok itu menghilang begitu saja. Namun, bekas tetesan cairan yang menyerupai darah masih terlihat jelas di anak tangga pertama.

Malam yang Berubah Mencekam

Ketegangan semakin menjadi ketika pintu belakang rumah tiba-tiba menutup keras dengan suara gedebuk yang memekakkan telinga. Kami berlari ke arah pintu depan, tetapi pintu itu terkunci rapat seolah ada yang menahan dari luar.

Seketika, suara tangisan perempuan terdengar dari lantai dua. Tangisan itu lirih, tetapi penuh dengan rasa sakit dan amarah. Raka berteriak histeris, menyalakan doa-doa, sementara Dimas mencoba mendobrak pintu. Namun, sekuat apa pun usahanya, pintu tak bergeming.

Malam Berdarah di Jalan Mawar

Puncaknya terjadi ketika kami kembali menoleh ke arah ruang tamu. Di sana, sosok perempuan tadi berdiri. Wajahnya kini terlihat jelas—penuh luka, matanya kosong, dan darah segar menetes dari mulutnya. Ia menatap kami dengan pandangan tajam.

Kami semua terpaku, tubuh kaku seolah lumpuh. Tiba-tiba dinding rumah seperti bergetar, dan bercak darah mulai muncul di lantai, merembes hingga mengenai sepatu kami. Bau anyir semakin kuat, membuat perut terasa mual.

Sosok itu melangkah pelan, semakin dekat, sambil menyeret sebuah pisau berkarat. Suara gesekannya dengan lantai membuat bulu kuduk kami berdiri.

Pelarian Panik

Entah bagaimana, tiba-tiba pintu depan terbuka dengan sendirinya. Tanpa pikir panjang, kami bertiga langsung berlari keluar rumah. Nafas tersengal, kaki terasa berat, tetapi kami terus berlari sampai jauh dari rumah itu.

Sesampainya di jalan besar, kami menoleh ke belakang. Rumah itu tampak biasa-biasa saja dari luar, tidak ada tanda-tanda kejadian aneh. Namun, bercak darah yang menempel di celana Raka menjadi bukti bahwa semua yang kami alami bukan ilusi.

Penutup: Trauma yang Membekas

Sejak malam itu, tidak ada satu pun dari kami yang berani melewati Jalan Mawar lagi. Raka sering sakit demam mendadak, Dimas mengaku masih mendengar tangisan perempuan setiap kali ia teringat kejadian itu.

Sedangkan saya, setiap kali menutup mata, bayangan sosok perempuan berwajah penuh luka itu masih muncul jelas. Malam berdarah di rumah kosong Jalan Mawar bukan hanya cerita, tapi sebuah pengalaman nyata yang meninggalkan trauma mendalam.

Lebih dari penulis ini

Desa Pemuja Iblis

Hotel Terkutuk: Pintu Kamar yang Tak Pernah Bisa Ditutup

Hotel Terkutuk: Pintu Kamar yang Tak Pernah Bisa Ditutup